Mengisi Yang Kosong & Mengosongkan Yang Berisi


Mengisi Yang Kosong & Mengosongkan Yang Berisi

Saya pernah menulis Zero Mind Process, tentang pengosongan pikiran pada saat bertafakur dan berdo'a kepada Allah Sang Maha Pencipta. Ternyata diserial TV; Kera Sakti, ada satu kata yang sering diucapkan dalam dialognya "Isi adalah kosong, kosong adalah isi". Oleh Mas Aska Primardi menemukan arti makna tersebut dari buku Bahan Renungan Kalbu.
Saya sangat salut dengan Mas Aska ini, walaupun saya baru menemukan blognya. Bagaimana perjuangannya menghadapi epilepsi yang menimpanya. Bagaimana dia berjuang utuk menjadikannya sebagai orang yang sehat.

Berikut ini saya copykan postingannya dari blognya:


Dulu, aku seneng banget nonton serial kera sakti di TV. Di serial itu aku sering denger kata-kata : “isi adalah kosong, dan kosong adalah isi”. Waktu nonton serial itu sih reaksiku biasa aja. Yah, aku sama sekali nggak paham maksudnya. Malah kadang aku sering bertanya tentang apa sih maksud dari kata-kata itu?

Tapi akhirnya aku mendapat jawabannya, tepatnya di saat umroh kemaren. Waktu aku lagi di pesawat menuju Jeddah, aku baca buku yang berjudul “Bahan Renungan Kalbu : Pengantar Mencapai Pencerahan Jiwa”. Salah satu bagian buku itu njelasin soal pentingnya kita menghadapi segala keinginan-keinginan atau hawa nafsu bukan melalui peperangan, tapi melalui renungan. Melalui renungan, kita bisa berserah diri kepada Tuhan, lalu menciptakan kekosongan hati dan pikiran. Kekosongan dari segala hawa nafsu, keinginan, dan pikiran-pikiran negatif. Buku itu juga njelasin tentang makna “kosong adalah isi”.

Ternyata yang dimaksud dengan “kosong adalah isi” itu adalah kita bisa mengosongkan jiwa, hati, dan pikiran kita dari pikiran negatif, keinginan berlebihan, dan hawa nafsu. Mengosongkan diri dari segala hal itu nggak mudah, karena kadang manusia hanya mementingkan segala hal itu tanpa didasari oleh akal yang sebenarnya merupakan kelebihan dari Tuhan kepada manusia.

Aku jadi ngerasa kalo aku dulu banyak ngelakuin kesalahan. Sesampainya di Madinah, aku terus aja merenung tentang hal itu, aku merenung tentang hal-hal yang udah aku lakuin di masa lalu, dan aku pun flash back ke masa lalu.

Ternyata aku bukanlah orang yang bisa dengan mudahnya mengosongkan hati, pikiran, dan kalbu, dari pikiran negatif dan hawa nafsu. Mengosongkan di sini berarti berserah diri kepada Tuhan, yang sering aku sebut dengan menerima kondisiku apa adanya dan percaya bahwa segala hal yang diberikan oleh-Nya pasti terbaik buatku.

Aku udah sering cerita bahwa 9 tahun lamanya aku hanya terganggu oleh pikiran bahwa aku nggak mau hidup dengan epi dan apapun yang terjadi aku harus sembuh dari epi. Sebagian besar hati dan pikiranku berisi hal itu. Mungkin itulah yang disebut pikiran negatif dan hawa nafsu. Pikiran negatif tentang jeleknya epi yang padahal setelah aku sadari mampu memberiku banyak sekali pelajaran hidup. Hawa nafsu untuk sembuh yang berarti ingin mencapai tujuan tanpa pernah melangkah. Atau lebih tepatnya lebih mementingkan hasil daripada proses. Padahal sebenarnya Tuhan memberiku penyakit karena Ia ingin memberiku pelajaran, urusan sembuh itu bukan hal yang sulit bagi-Nya.

Dan akhirnya aku pun bisa belajar untuk berserah diri kepada Tuhan setelah tahun ke 9, atau lebih tepatnya di saat aku mulai bisa ikhlas menerima dan mampu untuk berteman dengan epi. Aku menilai bahwa disaat itulah aku mampu mengosongkan hati dan pikiranku, dari pikiran negatif dan hawa nafsu. Aku pun lantas bisa berpikir positif dan menikmati proses menuju kesembuhan. Aku hanya bisa berusaha dalam proses menuju kesembuhan, urusan hasil, itu ada di tangan Tuhan.

Tapi….ternyata kosongnya hati dan pikiranku itu bukan lantas berarti hati dan pikiranku benar-benar kosong dan tak berisi. Saat itulah hati dan pikiranku terbentuk menjadi hati dan pikiran yang “berisi”. Berisi di sini berarti memiliki kemampuan.

Walaupun hati, pikiran, dan kalbu itu kosong, tapi sebenarnya semua itu “berisi”. Mengosongkan hati dan pikiran dari hal-hal negatif itu sulit. Aku aja butuh suatu proses selama 9 tahun. Mengosongkan hati dan pikiran itu butuh kerelaan, keikhlasan, dan kemampuan menerima terhadap segala hal yang Tuhan berikan padaku, terutama segala hal yang terlihat negatif. Butuh suatu proses untuk mencapai semua itu. Mungkin semua orang bisa melakukan hal yang sama kayak aku, selama ia mempunyai kemampuan yang “berisi” buat melalui segala bencana dan cobaan yang diberikan oleh Tuhan untuk menguji kualitas hambanya.

Mungkin inilah jawaban yang aku cari. Ternyata kosong adalah isi, dan isi adalah kosong. Mengosongkan hati dan pikiran dari hal-hal negatif membuat hati dan pikiran memiliki kemampuan yang “berisi”.


Yah ternyata benar bahwa :

Jangan lawan epi dengan peperangan dan hawa nafsu untuk menang

Peperangan hanya akan membuat kita lelah, sibuk, dan melupakan hal yang lain

Tapi lawanlah epi dengan keikhlasan untuk menerimanya

Dengan keikhlasan, epi nggak akan mampu menyerang lagi bagian tubuh kita yg terpenting, yaitu : hati dan pikiran kita.


Wassalam,
Syamsul
WSyakinah.com
WSyakinah.blogspot.com


Padanan: